RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIPLATELET PADA STROKE ISKEMIK
"BENEFIT AND RISK"
Aterosklerosis
adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan pada struktur tunika intima dan
tunika media dari pembuluh darah yang berukuran besar dan sedang. Diawali
dengan adanya abnormalitas endotelial dan terbentuknya plak aterosklerosis. Trombosis merupakan komplikasi utama dari aterosklerosis yang menyebabkan
aktivasi platelet dan agregasi yang berkembang dari plak aterosklerosis.
Atherotrombosis memicu terjadinya oklusi lokal dan embolisme di daerah distal.
Dengan manifestasi klinis yang dapat dilihat pada stroke iskemik.
Platelet memiliki peran sangat penting
dalam patogenesis aterotrombosis dan stroke. Penelitian-penelitian terhadap
stroke menekankan pada pendekatan strategi obat-obatan baru, operasi dan
intervensi yang bertujuan mengurangi perluasan sekaligus mempengaruhi
morbiditas dan mortalitasnya.
Platelet
merupakan hal yang biasa yang terdapat dalam tubuh manusia. Platelet berasal
dari megakariosit, yang merupakan bagian dari sel sumsum tulang. Agregasi
platelet adalah salah satu bagian dari sistem koagulasi, dengan melakukan
perbaikan pada sistem yang rusak. Sebagai contoh yang lebih spesifik ketika
endotelium di pembuluh darah mengalami kerusakan, akan terjadinya aktivasi
platelet sebagai bentuk tubuh dalam melakukan homeostatisnya.
Dalam
keadaan normal, endotel dapat menghambat terjadinya aktivasi platelet salah
satunya dengan memproduksi endotel-ADPase yang mencegah terbentuknya ADP
(Adenosine diphosphate). Selain itu endotel juga memproduksi semacam protein
yang disebut faktor von Willebrand
(vWF), yang dapat diketegorikan sebagai salah satu agen platelet. vWF
disekresi ke dalam plasma dan disimpan dalam sel endotel dalam keadaan normal.
Ketika tejadi kerusakan, contohnya adanya luka pada lapisan endotel, maka agen
platelet seperti vWF akan diaktifkan utnuk berkumpul dan menutup luka tersebut.
Platelet
dalam jumlah yang kecil dapat menyebabkan pendarahan yang berlebihan, akan
tetapi jika platelet dalam jumlah yang besar, dapat menyebabkan pembentukan blood
clot yang dapat menutup aliran pembuluh darah. Terutama pada penyakit
jantung koroner, dimana sebelumnya telah terjadi penyempitan pembuluh darah,
kemudian terjadi luka atau kerusakan sehingga adanya aktivasi platelet yang
dapat menyebabkan kematian karena jantung mengalami kekurangan oksigen.
Aktivasi
platelet memulai jalur asam arakidonat untuk menghasilkan TXA2. TXA2 terlibat dalam mengaktifkan trombosit lain
dan pembentukannya dihambat oleh inhibitor COX, seperti aspirin. Agregasi
platelet merupakan bentuk hubungan dari fibrinogen dan faktor von Willebrand
(vWF). Reseptor agregasi platelet yang paling banyak adalah glikoprotein IIb /
IIIa (gpIIb / IIIa), fibronektin, vitronektin, thrombospondin, dan (vWF).
Adapula beberapa reseptor lainnya termasuk GPIB-V-IX kompleks (vWF) dan GPVI
(kolagen). Platelet diaktifkan melalui glikoprotein (GP) Ia, dengan kolagen
yang terpapar hasil dari kerusakan endotel. Platelet manusia memiliki tiga
jenis reseptor P2: P2X (1), P2Y (1)
dan P2Y (12).
Agregasi platelet
dirangsang oleh ADP, tromboksan, dan α2 reseptor-aktivasi, tetapi dihambat oleh
produk-produk inflamasi lainnya seperti PGI2 dan PGD2.
Bekuan darah hanya solusi sementara untuk menghentikan pendarahan, perbaikan
jaringan itu sendiri sebenarnya yang dibutuhkan. Agregat dari platelet membantu
proses ini dengan mensekresi bahan kimia yang mencetuskan invasi fibroblas dari
jaringan ikat di sekitar daerah yang terluka sehingga dapat menyembuhkan luka.
Antiplatelet
adalah obat-obat yang menurunkan agregasi platelet dan menghambat pembentukan
thrombus di sirkulasi arteri. Obat golongan antiplatelet diindikasikan pada
semua penderita yang baru pertama kali menderita transient ischemic attack (TIA) dan stroke untuk mengurangi resiko berulangnya kejadian stroke. Aspirin, ticlopidine, clopidogrel
dan dipyridamole merupakan obat-obat
antiplatelet yang efektif digunakan pada penderita yang telah mengalami TIA dan
stroke.
Empat obat
antiplatelet yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA)
sebagai pencegah kejadian vaskular pada penderita TIA dan stroke yaitu aspirin, kombinasi aspirin dan extended-release dipyridamole
(ER-Dipyridamole), clopidogrel
dan tiklopidin. Tiga obat baru
golongan antiplatelet yang baru diinvestigasi memiliki potensi efektifitas
sebagai prevensi sekunder stroke yaitu triflusal,
cilostazol dan sarpogrelate. Cilostazol telah diakui oleh FDA untuk pengobatan intermittent
claudication dan selanjutnya berkembang sebagai pengobatan stroke.
Gambar 1. Mekanisme kerja obat antiplatelet
Aspirin
(COX Inhibitor)
Aspirin menghambat sintesis
tromboksan A2 (TXA2) di dalam trombosit pada prostasiklin (PGI2)
di pembuluh darah dengan menghambat secara irreversible enzim sikloksigenase
(akan tetapi siklooksigenase dapat dibentuk kembali oleh sel endotel).
Penghambat enzim siklooksigenase terjadi karena aspirin mengasetilasi enzim
tersebut. Aspirin dosis kecil hanya dapat menekan pembentukan TXA2,
sebagai akibatnya terjadi pengurangan agregasi trombosit. Sebagai antiplatelet
dosis efektif aspirin 80-320 mg per
hari. Dosis lebih tinggi selain meningkatkan toksisitas (terutama
perdarahan), juga menjadi kurang efektif karena selain menghambat TXA2
juga menghambat pembentukan prostasiklin.
Clopidogrel
(ADP Receptor Antagonist)
Obat ini sangat
mirip dengan tiklopidin dan nampaknya lebih jarang menyebabkan trombositopenia
dan leukopenia dibandingkan dengan tiklopidin, clopidrogel merupakan prodrug
dengan mula kerja lambat. Dosis umumnya 75mg/hari dengan atau tanpa dosis muat
300 mg.
Clopidogrel, suatu antagonis
reseptor ADP adalah sebuah obat yang membutuhkan oksidasi oleh hepatic cytochrome P450 (CYP450) untuk
menjadi metabolit aktif. ADP berikatan dengan trombosit melalui reseptor P2Y1,
P2Y12, dan P2X1. Reseptor P2X1 tidak memainkan peranan yang penting dalam
aktivasi trombosit. Hanya sebagian kecil clopidogrel yang mengalami proses
oksidasi oleh CYP450, sebagian besar terhidrolasi oleh esterase menjadi turunan
asam karboksilat yang tidak aktif. CYP3A4 dan CYP3A5 adalah enzim-enzim yang
bertanggung jawab terhadap oksidasi cincin thiopene clopidogrel menjadi
2-oxoclopidogrel yang selanjutnya menjadi karboksil dan grup thiol. Bentuk yang
terakhir ini membentuk jembatan disulfida dengan residu sistein ekstraseluler
yang berlokasi di reseptor ADP P2Y12 yang berada di permukaan trombosit dan
menyebabkan blokade ireversibel ADP.
Tiklopidin (ADP Receptor Antagonist)
Obat ini merupakan derivat
thienopiridine yang akan menghambat agregasi platelet dengan
adenosin diphospate dan penurunan konsentrasi dari trombin, kolagen,
tromboksan A2 dan faktor aktivasi platelet. Selain itu akan menurunkan
viskositas darah karena penurunan fibrinogen dalam darah dan meningkatkan
deformaboliti sel darah merah.
Dipirimadol (Inhibitor Fosfodiesterase)
Dipiridamol merupakan obat yang
memiliki mekanisme kerja sama dengan cilostazol.
Dipiridamol menghambat platelet enzim phosphodiesterase, menyebabkan
peningkatan putaran AMP (5’AMP) dengan potentiasi dari tindakan PGI2
dan menghambat TXA2. Dosis obat 300 – 600 mg sehari dalam dosis terbagi.
Inhibitor
Reseptor Glikoprotein IIb/IIIa
Reseptor
glikoprotein IIb/IIIa yang diaktivasi akan berikatan dengan fibrinogen dan
membentuk rantai dengan trombosit yang diaktivitasi dan dengan demikian
terjadilah trombus. Jadi berbeda dengan obat anti-trombosit lain yang hanya
bekerja pada sebagian dari berbagai tahapan terjadinya agregasi trombosit,
inhibitor glikoprotein IIb/IIIa bekerja pada tahapan akhir adhesi, aktivitas,
dan agregasi trombosit. Tiga kelompok terpenting obat golongan ini adalah murinehuman
chimeric antibiodies (abxicimab),
peptida sintetik (eptifibatide), dan
nonpeptida sintetik (trifiban dan lamifiban).
ANTIPLATELET PADA STROKE ISKEMIK
Pada penulisan artikel
ini mengacu kepada manajemen stroke yang ditunjukkan oleh The Quality
Standards Subcommittee (QSS) and the Therapeutics and Technology Assessment
(TTA) Subcommittee of the American Academy of Neurology, and the Stroke Council
and Science Advisory and Coordinating Committee (SACC) of the American Heart
Association. Pedoman tersebut mengajukan pertanyaan pertanyaan kunci untuk
menjawab efektivitas penggunaan antiplatelet pada stroke iskemik.
Apakah antiplatelet mengurangi mortalitas dan morbiditas
pada stroke iskemik ?
Sulit
untuk membandingkan mortalitas dan morbiditas dari stroke iskemik karena setiap pasien
memiliki skala hasil yang berbeda. Dua studi prospektif secara acak, uji coba
pemberian aspirin 300 mg dalam 48 jam onset stroke dan pemberian placebo pada
kelompok kontrol terhadap 21.106 pasien. Aspirin mengurangi tingkat kematian
dini sebesar (3,3% menjadi 3,9%; p = 0,04). Lalu, The International
Stroke Trial (IST) mengacak 19,436 (kelas II) pasien dengan onset stroke 24
jam untuk pengobatan dengan aspirin 325 mg, heparin subkutan dalam 2 rejimen
dosis yang berbeda, aspirin dengan heparin, dan plasebo. Studi ini menemukan
bahwa terapi aspirin mengurangi risiko kekambuhan stroke (Flores et all 2011).
Apakah antiplatelet mengurangi rekurensi dari stroke
?
Meskipun
pemberian agen anti agregasi trombosit diberikan pada onset akut stroke iskemik
tidak mengurangi kerusakan dari neurologis, antiplatelet dapat berguna dalam
mencegah rekurensi stroke. Hasil sebuah studi dari CAST menunjukkan bahwa aspirin
menurunkan risiko stroke iskemik berulang dari 2,1% menjadi 1,6%, namun risiko
dari semua rekurensi stroke (hemoragik atau iskemik) tidak secara signifikan
berkurang. Demikian pula, IST menyatakan bahwa aspirin secara signifikan
mengurangi tingkat rekurensi stroke iskemik dari 3,9% menjadi 2,8%.
Apakah terdapat risiko perdarahan yang berhubungan
dengan pemberian agen antiplatelet?
Aspirin
meningkatkan risiko perdarahan sistemik dan SSP. CAST, risiko perdarahan yang
cukup besar memerlukan transfusi atau perdarahan sistemik fatal 0,8% pada
pasien yang diobati dengan aspirin vs 0,6% pada pasien yang dirawat tidak
diterapi dengan aspirin (p = 0,02. Jika seorang pasien dikontraindikasikan
menggunakan aspirin, agen lain seperti clopidogrel, tiklopidin atau cilostazol
dapat dipertimbangkan. Secara umum, agen antiplatelet menyebabkan risiko
perdarahan terhadap gastrointestinal dan otak. Oleh karena itu, penentuan obat
yang tepat sangat penting dalam hal ini dengan mempertimbangkan rasio manfaat
dan risiko.
Apakah kombinasi antiplatelet memiliki manfaat?
Studi
yang dilakukan Bhatt (2006) menyimpulkan pemberian kombinasi clopidogrel dan
aspirin tidak menunjukkan secara signifikan lebih efektif dibandingkan dengan
penggunanaan aspirin secara tunggal dalam mengurangi kejadian infark miokard,
stroke dan faktor resiko kardiovaskular lainnya
Penentuan
regimen terapi obat tunggal maupun kombinasi bergantung pada tingkatan stroke
maupun penyakit penyerta. Setiap golongan obat antiplatelet memiliki
efektivitas serta manfaat dan risiko yang berbeda-berbeda terhadap keberhasilan
terapi.
Berdasarkan
Consumer Report Health (2012),
penggunaan antiplatelet didasari pada efektivitas , efek samping, biaya yang
dapat diklasifikasikan yaitu:
·
Aspirin
plus Clopidogrel,
diberikan jika pasien didiagnosa mengalami sindrom koroner akut (angina
nonstabil), serangan jantung dan penanaman katup jantung.
·
Clopidogrel tunggal, diberikan jika pasien
dikontraindikasikan menggunakan aspirin dan didiagnosa mengalami sindrom
koroner akut dan penanaman katup jantung.
·
Aspirin, Aspirin plus extended dipirimadol atau clopidogrel, diberikan jika pasien mengalami stroke atau mini
stroke (TIA)
·
Aspirin, diberikan jika pasien mengalami
penyakit arterti perifer.
Aspirin merupakan terapi yang
paling direkomendasikan dari segi efektivitas maupun farmakoekonomi. Penggunaan
obat ini mencegah terjadinya stroke berulang dan kejadian serangan jantung
namun efek samping perdarahan yang sangat hebat menjadi pertimbangan terhadap
penggunaan obat ini bagi pasien-pasien dengan riwayat perdarahan. Penelitian
lain menyatakan pemberian aspirin plus extended dipirimadol paling efektif dalam mencegah
terjadinya stroke sekunder dibandingkan pemberian aspirin tunggal maupun
clopidogrel tunggal.
Setiap regimen pengobatan
memiliki drug related problem (DRP),
namun sebagai seorang farmasi klinis
adalah bagaimana untuk meminimalkan risiko masalah terkait obat yang mungkin
akan terjadi dan memaksimalkan pengobatan berdasarkan efektivitas, keamanan dan sudut pandang
biaya (farmakoekonomi.
Right Decision Right Therapy


Tidak ada komentar:
Posting Komentar