CERDAS MEMILIH ANTIBIOTIK
Infeksi
mikroorganisme merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat penting,
terutama di negara-negara berkembang. Prevalensi kejadian infeksi meningkat
dari tahun ke tahun. Pencegahan dan pengendalian serta penanganan infeksi
merupakan tindakan yang terus dilakukan oleh para praktisi kesehatan di dunia.
Salah satu aspek dari tindakan ini adalah pemberian obat-obatan andalan seperti
antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, antiprotozoa.
Antibiotik
merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh
bakteri. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan
secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Berdasarkan
penelitian ditemukan bahwa terdapat ketidaktepatan indikasi terhadap seluruh
penggunaan antibiotik di rumah sakit. Masalah lain yang lebih berbahaya adalah
intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi di kalangan masyarakat
tanpa adanya pengawasan dari praktisi kesehatan maupun stake holder. Obat-obatan ini dapat dibeli secara bebas tanpa ada
resep dari dokter. Hal ini merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama
resistensi bakteri terhadap antibiotik. Bukan hanya berpengaruh pada morbiditas
dan mortalitas tetapi juga akan memberi dampak negative terhadap ekonomi dan
sosial yang sangat tinggi.
Resistensi
antibiotik merupakan project bersama yang harus terus dilakukan. Hal ini
didasari oleh ketidakseimbangan peningkatan resistensi antibiotik dengan
penemuan antibiotik baru. Penggunaan antibiotik yang bijak dan kewaspadaan berdasarkan
pedoman standar (standard precaution) merupakan critical point dari pencegahan resistensi antibiotik.
Berdasarkan
peraturan menteri kesehatan 2406/MENKES/PER/XII/201 tentang pedoman penggunaan
antibiotik, prinsip penggunaan antibiotik harus mempertimbangkan beberapa
faktor, yaitu faktor resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik, faktor
farmakokinetika dan farmakodinamik, faktor interaksi dan efek samping obat dan
faktor biaya. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik secara bijak sangat penting.
Prinsip Penggunaan Antibiotik Bijak (Prudent)
1. Penggunaan
antibiotik bijak yaitu penggunaan antibiotik dengan spektrum sempit (narrow
spectrum), pada indikasi yang ketat dengan dosis yang adekuat, interval dan
lama pemberian yang tepat.
2. Kebijakan
penggunaan antibiotik (antibiotic policy) ditandai dengan pembatasan
penggunaan antibiotik dan mengutamakan penggunaan antibiotik lini pertama.
3. Pembatasan
penggunaan antibiotik dapat dilakukan dengan menerapkan pedoman penggunaan
antibiotik, penerapan penggunaan antibiotik secara terbatas (restricted),
dan penerapan kewenangan dalam penggunaan antibiotik tertentu (reserved
antibiotics).
4. Indikasi
ketat penggunaan antibiotik dimulai dengan menegakkan diagnosis penyakit
infeksi, menggunakan informasi klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium seperti
mikrobiologi, serologi, dan penunjang lainnya. Antibiotik tidak diberikan pada
penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau penyakit yang dapat sembuh
sendiri.
5. Pemilihan
jenis antibiotik harus berdasarkan pada:
a. Informasi tentang spektrum kuman
penyebab infeksi dan pola kepekaan kuman terhadap antibiotik.
b. Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau
perkiraan kuman penyebab infeksi.
c. Profil farmakokinetik dan farmakodinamik
antibiotik.
d. Melakukan de-eskalasi setelah
mempertimbangkan hasil mikrobiologi dan keadaan klinis pasien serta ketersediaan obat.
e. Cost effective: obat dipilih atas
dasar yang paling cost effective dan aman.
6. Penerapan
penggunaan antibiotik secara bijak dilakukan dengan beberapa langkah sebagai
berikut:
a. Meningkatkan pemahaman tenaga
kesehatan terhadap penggunaan antibiotik secara bijak.
b. Meningkatkan
ketersediaan dan mutu fasilitas penunjang, dengan penguatan pada laboratorium hematologi, imunologi, dan
mikrobiologi
atau
laboratorium lain yang berkaitan dengan penyakit infeksi.
c. Menjamin ketersediaan tenaga
kesehatan yang kompeten di bidang infeksi.
d. Mengembangkan sistem penanganan
penyakit infeksi secara tim (teamwork).
e. Membentuk tim
pengendali dan pemantau penggunaan antibiotik secara bijak yang bersifat multi
disiplin.
f. Memantau penggunaan antibiotik secara
intensif dan berkesinambungan.
g. Menetapkan
kebijakan dan pedoman penggunaan antibiotik secara lebih rinci di tingkat
nasional, rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dan masyarakat.
Berdasarkan
tujuan terapi, antibiotik dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, antibiotik
untuk terapi empiris, profilaksis dan defenitif.
1. Antibiotik Terapi Empiris
a. Penggunaan antibiotik
untuk terapi empiris adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang belum
diketahui jenis bakteri penyebabnya.
b. Tujuan
pemberian antibiotik untuk terapi empiris adalah eradikasi atau penghambatan
pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi, sebelum diperoleh
hasil pemeriksaan mikrobiologi.
c. Indikasi:
ditemukan sindrom klinis yang mengarah pada keterlibatan bakteri tertentu yang
paling sering menjadi penyebab infeksi.
1) Dasar
pemilihan jenis dan dosis antibiotik data epidemiologi dan pola resistensi
bakteri yang tersedia di komunitas atau di rumah sakit setempat.
2) Kondisi klinis pasien.
3)
Ketersediaan antibiotik.
4)
Kemampuan antibiotik untuk menembus ke dalam jaringan/organ
yang terinfeksi.
5)
Untuk infeksi berat yang diduga disebabkan oleh polimikroba dapat
digunakan
antibiotik kombinasi.
d. Rute
pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi
infeksi. Pada infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan
antibiotik parenteral (Cunha, BA., 2010).
e. Lama
pemberian: antibiotik empiris diberikan untuk jangka waktu 48-72 jam.
2. Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis
Pemberian
antibiotik sebelum, saat dan hingga 24 jam pasca operasi pada kasus yang secara
klinis tidak didapatkan tanda-tanda infeksi dengan tujuan untuk mencegah
terjadi infeksi luka operasi. Diharapkan pada saat operasi antibiotik di
jaringan target operasi sudah mencapai kadar optimal yang efektif untuk
menghambat pertumbuhan bakteri (Avenia, 2009). Prinsip penggunaan antibiotik
profilaksis selain tepat dalam pemilihan jenis juga mempertimbangkan
konsentrasi antibiotik dalam jaringan saat mulai dan selama operasi
berlangsung.
1.Tujuan
pemberian antibiotik profilaksis pada kasus pembedahan:
a. Penurunan dan pencegahan kejadian
Infeksi Luka Operasi (ILO).
b. Penurunan morbiditas dan mortalitas
pasca operasi.
c. Penghambatan muncul flora normal
resisten.
d. Meminimalkan biaya pelayanan
kesehatan.
2. Indikasi
penggunaan antibiotik profilaksis didasarkan kelas operasi, yaitu operasi
bersih dan bersih kontaminasi.
3. Dasar
pemilihan jenis antibiotik untuk tujuan profilaksis:
a. Sesuai dengan
sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus bersangkutan.
b. Spektrum sempit untuk mengurangi
risiko resistensi bakteri.
c. Toksisitas rendah.
d. Tidak menimbulkan reaksi merugikan
terhadap pemberian obat anestesi.
e. Bersifat bakterisidal.
f. Harga terjangkau.
Gunakan sefalosporin generasi I – II
untuk profilaksis bedah. Pada kasus tertentu yang dicurigai melibatkan bakteri
anaerob dapat ditambahkan metronidazol.
Tidak dianjurkan menggunakan
sefalosporin generasi III dan IV, golongan karbapenem, dan golongan kuinolon
untuk profilaksis bedah.
4. Rute
pemberian
a. Antibiotik
profilaksis diberikan secara intravena.
b. Untuk
menghindari risiko yang tidak diharapkan dianjurkan pemberian antibiotik
intravena drip.
5. Waktu
pemberian
Antibiotik profilaksis diberikan ≤ 30
menit sebelum insisi kulit. Idealnya diberikan pada saat induksi anestesi.
6. Dosis
pemberian
Untuk menjamin kadar puncak yang tinggi
serta dapat berdifusi dalam jaringan dengan baik, maka diperlukan antibiotik
dengan dosis yang cukup tinggi. Pada jaringan target operasi kadar antibiotik
harus mencapai kadar hambat minimal hingga 2 kali lipat kadar terapi.
7. Lama
pemberian
Durasi pemberian
adalah dosis tunggal.
3. Antibiotik untuk Terapi Definitif
a. Penggunaan
antibiotik untuk terapi definitif adalah penggunaan antibiotik pada kasus
infeksi yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan pola resistensinya
(Lloyd W., 2010).
b. Tujuan
pemberian antibiotik untuk terapi definitif adalah eradikasi atau penghambatan
pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi, berdasarkan hasil
pemeriksaan mikrobiologi.
c. Indikasi: sesuai dengan hasil mikrobiologi
yang menjadi penyebab infeksi.
d. Dasar
pemilihan jenis dan dosis antibiotik:
1)
Efikasi klinik dan keamanan berdasarkan hasil uji klinik.
2)
Sensitivitas.
3)
Biaya.
4)
Kondisi klinis pasien.
5)
Diutamakan antibiotik lini pertama/spektrum sempit.
6)
Ketersediaan antibiotik (sesuai formularium rumah sakit).
7) Sesuai dengan
Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT) atau clinical
pathway setempat yang terkini.
8)
Paling kecil memunculkan risiko terjadi bakteri resisten.
e. Rute
pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi
infeksi. Pada infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan
antibiotik parenteral (Cunha, BA., 2010). Jika kondisi pasien memungkinkan,
pemberian antibiotik parenteral harus segera diganti dengan antibiotik per
oral.
f. Lama
pemberian antibiotik definitif berdasarkan pada efikasi klinis untuk eradikasi
bakteri sesuai diagnosis awal yang telah dikonfirmasi. Selanjutnya harus
dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien
serta data penunjang lainnya (IFIC., 2010; Tim PPRA Kemenkes RI., 2010).
Penggunaan Antibiotik Kombinasi
1. Antibiotik
kombinasi adalah pemberian antibiotik lebih dari satu jenis untuk mengatasi
infeksi.
2. Tujuan pemberian
antibiotik kombinasi adalah:
a. Meningkatkan aktivitas antibiotik
pada infeksi spesifik (efek sinergis).
b. Memperlambat dan mengurangi risiko
timbulnya bakteri resisten.
3. Indikasi
penggunaan antibotik kombinasi (Brunton et. Al, 2008; Archer, GL., 2008):
a.
Infeksi disebabkan oleh lebih dari satu bakteri (polibakteri).
b.
Abses intraabdominal, hepatik, otak dan saluran genital (infeksi
campuran
aerob dan anaerob).
c.
Terapi empiris pada infeksi berat.
4. Hal-hal yang
perlu perhatian (Brunton et. Al,; Cunha, BA., 2010):
a. Kombinasi
antibiotik yang bekerja pada target yang berbeda dapat meningkatkan atau
mengganggu keseluruhan aktivitas antibiotik.
b. Suatu
kombinasi antibiotik dapat memiliki toksisitas yang bersifat aditif atau superaditif. Contoh: Vankomisin secara
tunggal memiliki efek nefrotoksik minimal, tetapi pemberian bersama
aminoglikosida dapat meningkatkan toksisitasnya.
c. Diperlukan
pengetahuan jenis infeksi, data mikrobiologi dan antibiotik untuk mendapatkan
kombinasi rasional dengan hasil efektif.
d.
Hindari penggunaan kombinasi antibiotik untuk terapi empiris jangka lama.
e.
Pertimbangkan peningkatan biaya pengobatan pasien.
PENGGOLONGAN ANTIBIOTIK
Antibiotik
adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik bisa
bersifat bakterisid (membunuh
bakteri) atau bakteriostatik
(mencegah berkembangbiaknya bakteri). Pada kondisi immunocompromised (misalnya
pada pasien neutropenia) atau infeksi di lokasi yang terlindung (misalnya pada
cairan cerebrospinal), maka antibiotik bakterisid harus digunakan.
Antibiotik bisa
diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu:
1. Menghambat
sintesis atau merusak dinding sel bakteri, seperti beta-laktam (penisilin,
sefalosporin, monobaktam, karbapenem, inhibitor beta-laktamase), basitrasin,
dan vankomisin.
2. Memodifikasi
atau menghambat sintesis protein, misalnya aminoglikosid, kloramfenikol,
tetrasiklin, makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin), klindamisin,
mupirosin, dan spektinomisin.
3. Menghambat enzim-enzim
esensial dalam metabolisme folat, misalnya trimetoprim dan sulfonamid.
4.Mempengaruhi
sintesis atau metabolisme asam nukleat, misalnya kuinolon, nitrofurantoin.
1.
Obat yang Menghambat Sintesis atau Merusak Dinding Sel Bakteri
a. Antibiotik Beta-Laktam
Antibiotik beta-laktam terdiri dari
berbagai golongan obat yang mempunyai struktur cincin beta-laktam, yaitu penisilin, sefalosporin, monobaktam,
karbapenem, dan inhibitor beta-laktamase. Obat-obat antibiotik betalaktam umumnya
bersifat bakterisid, dan sebagian besar efektif terhadap organisme gram
-positif dan negatif. Antibiotik beta-laktam mengganggu sintesis dinding sel
bakteri, dengan menghambat langkah terakhir dalam sintesis peptidoglikan, yaitu
heteropolimer yang memberikan stabilitas mekanik pada dinding sel bakteri.
b. Basitrasin
Basitrasin adalah kelompok
yang terdiri dari antibiotik polipeptida, yang utama adalah basitrasin A.
Berbagai kokus dan basil gram positif, Neisseria, H. influenzae,
dan Treponema pallidum sensitif terhadap obat ini. Basitrasin tersedia
dalam bentuk salep mata dan kulit, serta bedak untuk topikal. Basitrasin jarang
menyebabkan hipersensitivitas. Pada beberapa sediaan, sering dikombinasi dengan
neomisin dan/atau polimiksin. Basitrasin bersifat nefrotoksik bila memasuki
sirkulasi sistemik.
c. Vankomisin
Vankomisin merupakan
antibiotik lini ketiga yang terutama aktif terhadap bakteri Gram-positif.
Vankomisin hanya diindikasikan untuk infeksi yang disebabkan oleh S. aureus yang
resisten terhadap metisilin (MRSA). Semua basil Gram-negatif dan mikobakteria
resisten terhadap vankomisin. Vankomisin diberikan secara intravena, dengan
waktu paruh sekitar 6 jam. Efek sampingnya adalah reaksi hipersensitivitas,
demam, flushing dan hipotensi (pada infus cepat), serta gangguan
pendengaran dan nefrotoksisitas pada dosis tinggi.
2.
Obat yang Memodifikasi atau Menghambat Sintesis Protein
Obat
antibiotik yang termasuk golongan ini adalah aminoglikosid, tetrasiklin,
kloramfenikol, makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin), klindamisin, mupirosin, dan spektinomisin.
a. Aminoglikosid
Spektrum aktivitas: Obat golongan ini
menghambat bakteri aerob Gramnegatif. Obat ini mempunyai indeks terapi sempit,
dengan toksisitas serius pada ginjal dan pendengaran, khususnya pada pasien
anak dan usia lanjut. Efek samping: Toksisitas ginjal, ototoksisitas (auditorik
maupun vestibular), blokade neuromuscular.
b. Tetrasiklin
Antibiotik yang termasuk ke dalam
golongan ini adalah tetrasiklin, doksisiklin, oksitetrasiklin, minosiklin, dan klortetrasiklin.
Antibiotik golongan ini mempunyai spektrum luas dan dapat menghambat berbagai
bakteri Gram-positif, Gram-negatif, baik yang bersifat aerob maupun anaerob,
serta mikroorganisme lain seperti Ricketsia, Mikoplasma, Klamidia, dan beberapa
spesies mikobakteria.
c. Kloramfenikol
Kloramfenikol adalah antibiotik
berspektrum luas, menghambat bakteri Grampositif dan negatif aerob dan anaerob,
Klamidia, Ricketsia, dan Mikoplasma. Kloramfenikol mencegah sintesis protein
dengan berikatan pada subunit ribosom 50S. Efek samping: supresi sumsum tulang,
grey baby syndrome, neuritis optik pada anak, pertumbuhan kandida di
saluran cerna, dan timbulnya ruam.
d. Makrolida
(eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin)
Makrolida aktif terhadap bakteri
Gram-positif, tetapi juga dapat menghambat beberapa Enterococcus dan
basil Gram-positif. Sebagian besar Gram-negatif aerob resisten terhadap
makrolida, namun azitromisin dapat menghambat Salmonela. Azitromisin dan
klaritromisin dapat menghambat H. influenzae, tapi azitromisin
mempunyai aktivitas terbesar. Keduanya juga aktif terhadap H. pylori.
e. Klindamisin
Klindamisin menghambat sebagian besar
kokus Gram-positif dan sebagian besar bakteri anaerob, tetapi tidak bisa
menghambat bakteri Gram-negatif aerob seperti Haemophilus, Mycoplasma dan
Chlamydia.Efek samping: diare dan enterokolitis pseudomembranosa.
f. Mupirosin
Mupirosin merupakan obat topikal yang
menghambat bakteri Gram-positif dan beberapa Gram-negatif. Tersedia dalam
bentuk krim atau salep 2% untuk penggunaan di kulit (lesi kulit traumatik,
impetigo yang terinfeksi sekunder oleh S. aureus atau S. pyogenes)
dan salep 2% untuk intranasal. Efek samping: iritasi kulit dan mukosa serta
sensitisasi.
g. Spektinomisin
Obat ini diberikan secara intramuskular.
Dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk infeksi gonokokus bila obat lini
pertama tidak dapat digunakan. Obat ini tidak efektif untuk infeksi Gonore
faring. Efek samping: nyeri lokal, urtikaria, demam, pusing, mual, dan
insomnia.
3.
Obat Antimetabolit yang Menghambat Enzim-Enzim Esensial dalam Metabolisme Folat
a. Sulfonamid dan Trimetoprim
Sulfonamid bersifat
bakteriostatik. Trimetoprim dalam
kombinasi dengan sulfametoksazol, mampu menghambat sebagian besar patogen
saluran kemih, kecuali P. aeruginosa dan Neisseria sp. Kombinasi
ini menghambat S. aureus, Staphylococcus koagulase
negatif, Streptococcus hemoliticus, H . influenzae, Neisseria
sp, bakteri Gram-negatif aerob (E. coli dan Klebsiella sp),
Enterobacter, Salmonella, Shigella, Yersinia, P. carinii.
Kombinasi kedua obat ini akan menghambat metabolism pembentukan folat.
Sulfonamid akan bekerja menyerupai struktur PABA untuk menghambat proses metabolisme
menjadi asam dehidropteroik. Trimetoprim akan menghambat proses enzim
dehidrofolat reduktase yang memetabolisme asam dehidrofolat menjadi asam
tetrahidrofolat.
Gambar 1. Mekanisme kerja Sulfonamida - Trimetoprim
4. Obat yang Mempengaruhi Sintesis atau Metabolisme
Asam Nukleat
a. Kuinolon
1)
Asam nalidiksat
Asam nalidiksat menghambat
sebagian besar Enterobacteriaceae.
2)
Fluorokuinolon
Golongan fluorokuinolon meliputi norfloksasin, siprofloksasin, ofloksasin,
moksifloksasin, pefloksasin, levofloksasin,
dan lain-lain. Fluorokuinolon bisa digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh
Gonokokus, Shigella, E. coli, Salmonella, Haemophilus, Moraxella
catarrhalis serta Enterobacteriaceae dan P.
aeruginosa.
Hipersensitivitas Antibiotik
Hipersensitivitas
antibiotik merupakan suatu keadaan yang mungkin dijumpai pada penggunaan
antibiotik, antara lain berupa pruritus-urtikaria hingga reaksi anafilaksis.
Profesi medik wajib mewaspadai kemungkinan terjadi kerentanan terhadap
antibiotik yang digunakan pada penderita. Anafilaksis jarang terjadi tetapi
bila terjadi dapat berakibat fatal. Dua pertiga kematian akibat anafilaksis
umumnya terjadi karena obstruksi saluran napas.
Jenis
hipersensitivitas akibat antibiotik:
a. Hipersensitivitas Tipe Cepat
Keadaan ini juga
dikenal sebagai immediate hypersensitivity. Gambaran klinik ditandai
oleh sesak napas karena kejang di laring dan bronkus, urtikaria, angioedema,
hipotensi dan kehilangan kesadaran. Reaksi ini dapat terjadi beberapa menit
setelah suntikan penisilin.
b.
Hipersensitivitas Perantara Antibodi (Antibody Mediated Type II
Hypersensitivity)
Manifestasi
klinis pada umumnya berupa kelainan darah seperti anemia hemolitik,
trombositopenia, eosinofilia, granulositopenia. Tipe reaksi ini juga dikenal
sebagai reaksi sitotoksik. Sebagai contoh, kloramfenikol dapat menyebabkan
granulositopeni, obat beta-laktam dapat menyebabkan anemia hemolitik autoimun,
sedangkan penisilin antipseudomonas dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan
pada agregasi trombosit.
c.
Immune Hypersensivity -complex Mediated (Tipe III)
Manifestasi
klinis dari hipersensitivitas tipe III ini dapat berupa eritema, urtikaria dan
angioedema. Dapat disertai demam, artralgia dan adenopati. Gejala dapat timbul
1 - 3 minggu setelah pemberian obat pertama kali, bila sudah pernah reaksi
dapat timbul dalam 5 hari. Gangguan seperti SLE, neuritis optik,
glomerulonefritis, dan vaskulitis juga termasuk dalam kelompok ini.
d. Delayed Type Hypersensitivity
Hipersensitivitas
tipe ini terjadi pada pemakaian obat topikal jangka lama seperti sulfa atau
penisilin dan dikenal sebagai kontak dermatitis. Reaksi paru seperti sesak,
batuk dan efusi dapat disebabkan nitrofurantoin. Hepatitis (karena isoniazid),
nefritis interstisial (karena antibiotik beta-laktam) dan ensefalopati (karena klaritromisin)
yang reversibel pernah dilaporkan.
Daftar Antibiotik yang Tidak Boleh
Diberikan pada anak
Nama Obat
|
Kelompok Usia
|
Alasan
|
Siprofloksasin
|
Kurang dari 12 tahun
|
Merusak tulang rawan (cartillage
disgenesis)
|
Norfloksasin
|
Kurang dari 12 tahun
|
Merusak tulang rawan (cartillege
disgenesis)
|
Tetrasiklin
|
Kurang dari 4 tahun atau pada dosis tinggi
|
diskolorisasi gigi, gangguan pertumbuhan
tulang
|
Kotrimoksazol
|
Kurang dari 2 bulan
|
Tidak ada data efektivitas dan keamanan
|
Kloramfenikol
|
Neonatus
|
Menyebabkan Grey baby syndrome
|
Tiamfenikol
|
Neonatus
|
Menyebabkan Grey baby syndrome
|
Linkomisin HCl
|
Neonatus
|
Fatal toxic syndrome
|
Piperasilin-
Tazobaktam
|
Neonatus
|
Tidak ada data efektifitas dan keamanan
|
Azitromisin
|
Neonatus
|
Tidak ada data efektifitas dan keamanan
|
Tigesiklin
|
Anak kurang dari 18
tahun
|
Tidak ada data efektifitas dan keamanan
|
Spiramisin
|
Neonatus dan bayi
|
Tidak ada data efektifitas dan keamanan
|
Daftar Antibiotik Menurut Kategori
Keamanan Untuk Ibu Hamil
KATEGORI
|
||||
A
|
B
|
C
|
D
|
X
|
(Hanya
|
Amphoterisin
|
Basitrasin
|
Aminoglikosida
|
Metronidazol
|
vitamin)
|
B
|
Kuinolon
|
Doksisiklin
|
(trimester I)
|
Azitromisin
|
Klaritromisin
|
Minosiklin
|
||
Astreonam
|
Kotrimoksazol
|
Tetrasiklin
|
||
Beta laktam
|
Imipenem
|
Tigesiklin
|
||
Klindamisin
|
Isoniazid
|
|||
Karbapenem
|
Linezolid
|
|||
Eritromisin
|
Paramomisin
|
|||
Fosfomisin
|
Pirazinamid
|
|||
Metronidazol
|
Spiramisin
|
|||
Sulfa
|
||||
Rifampisin
|
||||
Vankomisin
|
||||
Daftar Antibiotik yang Perlu Dihindari
Pada Wanita Menyusui
Nama Antibiotik
|
Pengaruh terhadap ASI dan
bayi
|
Anjuran
|
Kloramfenikol
|
Toksisitas
sumsum tulang pada bayi
|
Hentikan
selama menyusui
|
Klindamisin
|
Pendarahan
gastrointestinal
|
Hentikan
selama menyusui
|
Kloksasilin
|
Diare
|
Awasi
terjadinya diare
|
Metronidazol
|
Data
pre klinik menunjukkan efek karsinogenik
|
Hentikan
selama menyusui
|
Pentoksifilin
|
Ekskresi
dalam ASI
|
Hindari
selama menyusui
|
Siprofloksasin
|
Ekskresi
dalam ASI
|
Hindari
selama menyusui
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar