Rabu, 27 April 2016

Edema Perifer Terhadap Pemberian Calcium Channel Blocker



Calcium Channel Blocker Sebagai Pencetus Edema Perifer 

Calcium channel blocker (CCB) adalah sekelompok obat yang bekerja dengan menghambat secara selektif masuknya ion Ca²+ melewati slow channel yang terdapat pada membran sel (sarkolema) otot jantung dan pembuluh darah, sehingga mendilatasi arteri utama jantung, dan meningkatkan pengiriman oksigen ke otot jantung dengan menghambat spasme arteri koroner

Berdasarkan struktur kimianya, CCB dapat dibedakan atas 5 golongan obat:
Dyhidropyridine (DHP) : Amilodipine, Felodipine, Isradipine, Nicardipine, Nifedipine, Nimodipine, Nisoldipine, Nitrendipine.  
-          Dyphenilalkilamine : Verapamil dll 
-          Benzotiazepin : Diltiazem dll, 
-          Piperazine : Sinarizine dll, 
-          Lain-lain : Bepridil dll.
 

Gambar 1. Mekanisme kerja Calcium Channel Blocker
 
Berdasarkan lama kerjanya, CCB dibedakan menjadi short acting (mula kerjanya cepat, tetapi masa kerjanya pendek) dan long acting ( mula kerjanya lebih lambat, tetapi masa kerjanya panjang) 

Beberapa tipe penyekat-kanal-kalsium adalah tipe L (tempat ditemukan: Otot, saraf), tipe T (tempat ditemukan: jantung, saraf), tipe N (tempat ditemukan: saraf), tipe P (tempat ditemukan saraf purkinje serebral). 

Cara kerja CCB tipe L merupakan tipe yang dominan pada otot jantung dan otot polos dan diketahui terdiri dari beberapa reseptor obat. Telah dibuktikan bahwa ikatan nifedipin dan dyhidropyridine lainnya terdapat pada satu situs, sedangkan verapamil dan diltiazem diduga mengadakan ikatan pada reseptor yang berkaitan erat, tetapi tidak identik pada regio lainnya. Ikatan obat pada reseptor verapamil atau diltiazem juga mempengaruhi pengikatan dyhidropyridine. Region reseptor tersebut bersifat stereoselektif, karena terdapat perbedaan yang mencolok baik dalam afinitas pengikatan stereoisomer maupun potensi farmakologis pada enansiomer verapamil, diltiazem dan kongener nifedipin yang secara optis aktif.  
 
Beberapa CCB berbeda dalam hal lama kerjanya, proses eliminasi dari tubuh dan kemampuannya untuk mempengaruhi denyut dan kontraksi jantung.

CCB atau agen penghambat kanal kalsium terutama golongan dyhidropyridine merupakan obat antihipertensi yang sering diberikan baik tunggal maupun kombinasi dengan obat lain. Menurut JNC 8, pasien hipertensi tanpa komplikasi yang berkulit hitam dapat diberikan CCB tunggal jika diuretik tiazid dikontraindikasikan. 

Berdasarkan Journal of Hypertension menyebutkan bahwa penggunaan CCB tunggal meningkatkan risiko edema perifer. CCB sebagai pencetus edema perifer dihubungkan dengan peningkatan tekanan hidrostatik kapiler yang disebabkan oleh dilatasi pembuluh darah pre-kapiler yang lebih besar dibandingkan post-kapiler. Edema perifer yang disebabkan CCB lebih dikarenakan efek vasodilatasi bukan retensi cairan. Pemberian diuretik bukan alternatif logis untuk mengatasi efek samping ini. Pemberian obat ACEi (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor)  atau ARB (Angiotensin Receptor Blocker) ideal digunakan untuk mengurangi dan mencegah risiko edema perifer. 

Pemberian kombinasi CCB dengan ACEi atau ARB terbukti menurunkan risiko edema perifer dibandingkan dengan pemberian tunggal CCB. Ternyata, CCB merupakan vasodilator selektif terhadap arteri pada sirkulasi yang menyebabkan resistensi pembuluh darah vena. Penghambatan terhadap Renin Angiotensin System oleh pemberian ACEi atau ARB menimbulkan vasodilatasi terhadap arteri dan vena. Sehingga mencegah terjadinya resistensi pembuluh darah vena. ACEi dan ARB juga menurunkan aktivasi sistem saraf simpatis yang disebabkan oleh CCB.

 Gambar 2. Perbandingan CCB Tunggal dan Kombinasi Terhadap Risiko Edema Perifer 


Pilhan terhadap regimen ACEi–CCB atau ARB–CCB bergantung pada multifaktor, yakni kepatuhan, ketersediaan obat, biaya dan efikasi. Fixed Dose Combination ARB-CCB telah ditetapkan untuk mendukung dan memaksimalkan pengobatan kepada pasien yang berisiko terjadinya efek samping edema. 

CCB merupakan obat yang terbukti efektif dan berperan penting dalam penanganan hipertensi. Obat ini memiliki banyak efek menguntungkan seperti penurunan terhadap tingkat progresi dari arterosklerosis karotid. Upaya terhadap optimalisasi penggunaan obat ini terus dilakukan terutama dengan meminimalisasi risiko efek samping, yakni edema perifer.




                                                                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar