Why Always Thiazide Diuretic ?
Hipertensi
merupakan penyakit yang paling sering diderita dengan angka kesakitan dan
kematian yang tinggi di dunia. Penyakit ini disebut silent killer karena gejala awal dari penyakit ini jarang disadari
oleh penderitanya. Hipertensi sangat erat kaitannya dengan diabetes mellitus.
Dewasa ini, prevalensi penyakit hipertensi disertai diabetes mellitus merupakan
angka tertinggi dari penyakit lain di dunia. Oleh karena itu, dibutuhkan
penatalaksanaan yang sangat baik terutama dari segi farmakoterapi. Penggunaan
obat-obatan yang rasional merupakan poin penting dalam keberhasilan terapi. JNC
(Joint National Committee) 8 telah
merekomendasikan farmakoterapi untuk hipertensi disertai diabetes berdasarkan
ras dan warna kulit. Berbeda hal nya pada JNC 7 terdahulu, target tekanan darah
pasien hipertensi dengan diabetes pada JNC 8 lebih tinggi yaitu 140/90 mmHg.
Berdasarkan
JNC 8, pasien hipertensi disertai diabetes yang berkulit kulit hitam diberikan
terapi awal diuretik tiazid atau calcium
channel blocker (CCB) sedangkan pasien non kulit hitam diberikan terapi
awal diuretik tiazid, angiotensin
converting enzyme inhibitor (ACEi), angiotensin
receptor blocker (ARB) atau calcium
channel blocker yang dapat diberikan tunggal atau kombinasi mencapai dosis
maksimum dari masing-masing obat. Jika tidak terjadi perbaikan klinis yang
signifikan, third drugs dapat
diberikan yaitu beta blocker atau
agen penghambat aldosteron.
Muncul
banyak kontroversi dari beberapa ahli dan praktisi kesehatan terhadap kebijakan
JNC 8 dalam menyusun clinical pathway terkait hipertensi
disertai diabetes. Beberapa obat yang direkomendasikan sebagai terapi
antihipertensi malah memperburuk kondisi intoleransi glukosa yang menyebabkan
diabetes mellitus. Salah satunya adalah diuretik
tiazid.
Diuretik
tiazid merupakan first line therapy untuk
hipertensi tunggal maupun hipertensi komplikasi diabetes mellitus tanpa adanya
kerusakan ginjal. Diuretik ini cukup efektif dalam mencegah risiko terjadinya
komplikasi kardiovaskular lain seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Beberapa
contoh obat ini adalah hidroklorotiazid dan klortaridon. Namun, Telah banyak
dilaporkan bahwa penggunaan obat ini menyebabkan terjadinya peningkatan glukosa
darah (hiperglikemia) yang signifikan. Hiperglikemia ini diduga disebabkan oleh
penurunan sekresi dan resistensi insulin. Menurut Medicine Update, pemberian diuretik tiazid menurunkan respon
insulin endogen terhadap 27% pasien hipertensi. Hal ini juga dikaitkan dengan
penurunan serum kalium (hipokalemia) yang menyebabkan menurunnya sensitivitas
insulin. Hipokalemia memiliki korelasi yang signifikan terhadap peningkatan
kadar glukosa darah. Hal ini diduga diperantarai oleh sistem saraf yang mengatur
kontrol RAAS (Renin Angiotensin
Aldosteron System). Namun, mekanisme secara molekuler dari hubungan ini
belum dapat ditetapkan. Pengaturan dosis tiazid dan pemantauan kadar kalium
sangat dibutuhkan pada kondisi ini jika dicurigai adanya hiperglikemia yang
signifikan. Terapi obat lain mungkin dibutuhkan jika tiazid tidak dapat
diberikan.
Pengkajian
terhadap penggunaan tiazid sebagai first
line therapy hipertensi sangat penting untuk meningkatkan penggunaan obat
yang rasional dan efektivitas pengobatan atau regimen terapi hipertensi non
komplikasi maupun disertai diabetes. Masih banyak ADR (Adverse Drug Reaction) lain dari penggunaan obat antihipertensi yang dikaitkan dengan diabetes mellitus maupun kerusakan ginjal seperti beta blocker, ACEi dan ARB yang mungkin akan dibahas pada blog berikutnya. Semoga bermanfaat,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar