Rabu, 30 Maret 2016

Kontroversi Penggunaan Diuretik Tiazid Sebagai First Line Therapy Hipertensi



Why Always Thiazide Diuretic ?


Hipertensi merupakan penyakit yang paling sering diderita dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi di dunia. Penyakit ini disebut silent killer karena gejala awal dari penyakit ini jarang disadari oleh penderitanya. Hipertensi sangat erat kaitannya dengan diabetes mellitus. Dewasa ini, prevalensi penyakit hipertensi disertai diabetes mellitus merupakan angka tertinggi dari penyakit lain di dunia. Oleh karena itu, dibutuhkan penatalaksanaan yang sangat baik terutama dari segi farmakoterapi. Penggunaan obat-obatan yang rasional merupakan poin penting dalam keberhasilan terapi. JNC (Joint National Committee) 8 telah merekomendasikan farmakoterapi untuk hipertensi disertai diabetes berdasarkan ras dan warna kulit. Berbeda hal nya pada JNC 7 terdahulu, target tekanan darah pasien hipertensi dengan diabetes pada JNC 8 lebih tinggi yaitu 140/90 mmHg.
Berdasarkan JNC 8, pasien hipertensi disertai diabetes yang berkulit kulit hitam diberikan terapi awal diuretik tiazid atau calcium channel blocker (CCB) sedangkan pasien non kulit hitam diberikan terapi awal diuretik tiazid, angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi), angiotensin receptor blocker (ARB) atau calcium channel blocker yang dapat diberikan tunggal atau kombinasi mencapai dosis maksimum dari masing-masing obat. Jika tidak terjadi perbaikan klinis yang signifikan, third drugs dapat diberikan yaitu beta blocker atau agen penghambat aldosteron. 




Muncul banyak kontroversi dari beberapa ahli dan praktisi kesehatan terhadap kebijakan JNC 8 dalam menyusun clinical pathway terkait hipertensi disertai diabetes. Beberapa obat yang direkomendasikan sebagai terapi antihipertensi malah memperburuk kondisi intoleransi glukosa yang menyebabkan diabetes mellitus. Salah satunya adalah diuretik tiazid.
Diuretik tiazid merupakan first line therapy untuk hipertensi tunggal maupun hipertensi komplikasi diabetes mellitus tanpa adanya kerusakan ginjal. Diuretik ini cukup efektif dalam mencegah risiko terjadinya komplikasi kardiovaskular lain seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Beberapa contoh obat ini adalah hidroklorotiazid dan klortaridon. Namun, Telah banyak dilaporkan bahwa penggunaan obat ini menyebabkan terjadinya peningkatan glukosa darah (hiperglikemia) yang signifikan. Hiperglikemia ini diduga disebabkan oleh penurunan sekresi dan resistensi insulin. Menurut Medicine Update, pemberian diuretik tiazid menurunkan respon insulin endogen terhadap 27% pasien hipertensi. Hal ini juga dikaitkan dengan penurunan serum kalium (hipokalemia) yang menyebabkan menurunnya sensitivitas insulin. Hipokalemia memiliki korelasi yang signifikan terhadap peningkatan kadar glukosa darah. Hal ini diduga diperantarai oleh sistem saraf yang mengatur kontrol RAAS (Renin Angiotensin Aldosteron System). Namun, mekanisme secara molekuler dari hubungan ini belum dapat ditetapkan. Pengaturan dosis tiazid dan pemantauan kadar kalium sangat dibutuhkan pada kondisi ini jika dicurigai adanya hiperglikemia yang signifikan. Terapi obat lain mungkin dibutuhkan jika tiazid tidak dapat diberikan.




Pengkajian terhadap penggunaan tiazid sebagai first line therapy hipertensi sangat penting untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional dan efektivitas pengobatan atau regimen terapi hipertensi non komplikasi maupun disertai diabetes. Masih banyak ADR (Adverse Drug Reaction) lain dari penggunaan obat antihipertensi yang dikaitkan dengan diabetes mellitus maupun kerusakan ginjal seperti beta blocker, ACEi dan ARB yang mungkin akan dibahas pada blog berikutnya. Semoga bermanfaat, 

Right Decision Right Therapy


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar