Waspadai
Hipoglikemia Karena Obat-Obatan
Kadar
glukosa darah yang normal adalah tujuan terapi dari pemberian obat antidiabetes
oral. Namun, sebagian besar obat-obatan ini memiliki efek samping serius yang
harus dipertimbangkan, yaitu hipoglikemia.
Hasil survey menunjukkan sebagian besar pasien diabetes yang menerima terapi
antidiabetika oral mengalami hipoglikemia. Hipoglikemia akan menyebabkan
terganggunya sistem tubuh seperti sistem hormon dan kardiovaskular. Gejala yang
akan tampak dari hipoglikemia adalah sering berkeringat, pusing, kesulitan
berkonsentrasi dan denyut jantung meningkat. Menurut Hepburn (1991), Terdapat dua
kelompok gejala hipoglikemia berdasarkan reaksi tubuh.
Autonomic, ditandai
dengan gejala gemetar, gelisah dan berkeringat
Neuroglikopenia, ditandai dengan gejala mengantuk, bingung,
kelelahan, sulit berkonsentrasi dan
sulit berbicara.
Praktisi
kesehatan baik dokter, apoteker maupun perawat harus selalu memantau kondisi
pasien diabetes yang menerima obat-obatan antidiabetika oral. Selain terapi insulin, Telah diketahui daftar
obat-obatan yang menyebabkan hipoglikemia.
1. Sulfonilurea
Sulfonilurea merupakan obat antidiabetika oral. Obat ini
bekerja dengan memacu pelepasan insulin dari sel beta pankreas dengan cara
berikatan dengan reseptor sulfonilurea pada sel beta pankreas yang menyebabkan
inhibisi efluks ion kalium dan menyebabkan depolarisasi dan pelepasan insulin.
Pemakaian sulfonilurea jangka panjang pada pasien diabetes dapat menurunkan
kadar serum glukagon yang dapat
meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia. Mekanisme inhibisi glukagon ini
terjadi karena stimulasi pelepasan insulin dan somatostatin menghambat sekresi
sel alfa pankreas. Obat-obatan yang populer dari golongan suflonilurea adalah
glibenklamid, gliklazid dan glimepirid. Glibenklamid merupakan obat yang
menyebabkan risiko tertinggi terjadinya hipoglikemia.
2. Meglitinid
Meglitinida juga merupakan obat antidiabetika oral yang
bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin sel beta pankreas dengan mengatur
efluks kanal kalsium. Meglitinide memiliki tempat perlekatan (binding sites) yang sama dengan yang
dimiliki oleh golongan sulfonilurea. Obat yang termasuk dalam golongan
meglitinide yaitu repaglinid. Repaglinid berisiko menimbulkan hipoglikemia bila
pasien tidak segera makan setelah mengkonsumsi obat, atau makan dengan jumlah
karbohidrat yang tidak adekuat. Golongan obat ini memiliki risiko hipoglikemia yang lebih ringan dibandingakan penggunaan sulfonilurea.
3.
Beta Blocker Non Selective
Beta blocker non selective merupakan obat yang diindikasikan
untuk hipertensi. Penggunaan obat ini ternyata menyebabkan risiko hipoglikemia
yang serius. Obat ini tidak hanya menghambat reseptor β1 yang
terdapat pada jantung, namun juga menghambat reseptor β2 yang
terdapat pada saluran pernafasan dan hati. Penghambatan reseptor beta pada hati
akan menghambat proses glikogenolisis dan glukoneogenesis, yang mengakibatkan
tidak terbentuknya glukosa baru. Obat ini juga mestimulasi pelepasan insulin
melalui peningkatan influks kalsium. Beberapa obat beta blocker non selective seperti propranolol, sotalol dan
timolol tidak disarankan untuk
pasien diabetes. Namun pemberian beta
blocker selective seperti bisoprolol, atenolol dan metoprolol telah
terbukti menurunkan risiko hipoglikemia pada pasien hipertensi disertai diabetes.
Gambar 1. Pengaruh Beta blocker non selective terhadap kadar glukosa darah
4. Salisilat
Salisilat merupakan obat yang sering digunakan dalam
pengobatan demam, nyeri dan inflamasi. Salisilat menurunkan kadar gula darah
dan meningkatkan sekresi insulin yang distimulasi glukosa (glucose - stimulated insulin secretion) pada orang normal dan
pasien diabetes. Salisilat menghambat sintesis prostaglandin pada berbagai
jaringan, termasuk jaringan pankreas. Penurunan produksi prostaglandin di
pankreas berhubungan dengan peningkatan sekresi insulin, dibuktikan dalam
penelitian sebelumnya bahwa pada orang normal, infus prostaglandin E2 dan
analog E2 termetilasi menghambat respon insulin akut setelah asupan glukosa. Antiinflamasi selain salisilat juga telah terbukti menyebabkan hipoglikemia, yaitu indometasin.
5. Florokuinolon
Florokuinolon merupakan antibiotik yang secara luas
menghambat aktivitas enzim DNA girase dan topoisomerase IV. Mekanisme
florokuinolon menyebabkan hipoglikemia belum diketahui secara jelas. Namun,
penelitian klinis menunjukkan penggunaan obat golongan florokuinolon
ciprofloxacin, gatifloxacin, levofloxacin, moxifloxacin, norfloxacin, ofloxacin
dan rofloxacin. menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Beberapa peneliti menduga
efek hipoglikemia ini disebabkan karena perangsangan sel beta pankreas yang
memicu pelepasan insulin yang menurunkan kadar glukosa darah.
AACE telah merilis obat-obatan
antidiabetika oral yang menyebabkan hipoglikemia yang dapat dilhat pada gambar
dibawah ini.
Gambar 2. Benefit and Risk Antidiabetika Oral
Berdasarkan gambar di atas, bukan
hanya hipoglikemia tetapi juga potensi gagal ginjal, gagal hati, gagal jantung,
peningkatan berat badan dan cedera otot merupakan efek samping yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan terapi obat-obatan antidiabetes.
Right Decision Right Therapy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar