Minggu, 29 Oktober 2017

RISK AND BENEFIT
NEBIVOLOL : ANTIHIPERTENSI (Beta Blocker) Generasi III


Hipertensi merupakan silent killer karena menyebabkan komplikasi pada organ-organ vital tanpa disadari penderita. Beta blocker merupakan pilihan obat yang aman dan efektif sebagai langkah awal terapi hipertensi. Namun, berdasarkan pedoman dari JNC 8 saat ini dikatakan bahwa beta blocker tidak sesuai digunakan sebagai first line therapy karena komplikasi yang ditimbulkan. Dalam Review kali ini akan membahas terkait Nebivolol sebagai beta blocker terbaru generasi III.

Data statitik riskesdas tahun 2013 menyatakan 25,8% penduduk indonesia diatas 18 tahun mengidap hipertensi. Dengan kata lain, ¼ lebih penduduk indonesia cenderung memiliki tekanan darah di atas rata-rata. Beta blocker memang bukanlah sebagai lini pertama untuk terapi hipertensi namun obat golongan ini terutama beta blocker selectif merupakan alternatif yang lebih aman untuk pasien dengan komplikasi COPD, asma, diabetes dan penyakit jaringan perifer.

Nebivolol merupakan beta bloker generasi III yang bersifat sangat selektif terhadap reseptor β1-adrenergic dan mempunyai kemampuan sebagai vasodilator secara langsung. Nebivolol juga tidak mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan lipid.


Nebivolol adalah derivat dari propanolol yang mempunyai struktur D- dan L-isomer. Strukutur D-isomer dari nebivolol yang mempunyai hubungan dengan sifatnya sebagai selective β1-blocking dan mild vasodilator. Sedangkan L-isomer berperan menstimulasi β3-receptor yang akan mengaktifkan eNOS sehingga terjadi pelepasan nitric oxide. Nitric oxide yang tersebar pada sel otot polos pembuluh darah mengaktifkan guanylil cyclase. Guanylil cyclase yang sudah aktif kemudian mengubah guanosine triphosphate (GTP) menjadi cyclic guanosine monophosphate (cGMP). cGMP selanjutnya menyebabkan pelepasan ion kalsium pada sitoplasma ke reticulum sarkoplasma. Lepasnya ion kalsium ini akan menimbulkan relaksasi pada elemen kontraktil dan dilatasi pembuluh darah. 

Mekanisme Nebivolol via nitric oxide

Beta-blocker sudah terbukti memiliki kemampuan dalam meningkatkan fungsi ventrikel setelah penggunaan dalam jangka waktu lama. Sedangkan nebivolol, mempunyai efek dalam meningkatkan fungsi ventrikel walaupun dalam jangka waktu pendek. Nebivolol juga dapat meningkatkan peak filling rate dan compliance ventrikel kiri, hal ini disebabkan karena vasodilatasi pembuluh darah perifer dan dilatasi vena sehingga volume ventrikel kanan berkurang dan pengisian pada ventrikel kiri menjadi lebih baik.

Nebivolol juga mempunyai efek menghambat enzim yang menghasilkan superoksida (O2-) seperti nicotinamidedifosfate [NAD(P)H] oxidase, mitokondria dan siklooksigenase. Superoksida berperan dalam pengaktifan peroksinitrat (ONOO-) yang menghambat eNOS dalam menghasilkan nitric oxide. Nebivolol dikatakan meningkatkan fungsi endotelium melalui penurunan produksi superoxide, penurunan infiltrasi makrofag dan penghambatan [NAD(P)H] oxidase.


Menurut munzel (2009), Nebivolol selain memiliki efek beta 1 antagonis dan beta3 agonis secara tidak langsung obat ini juga menghambat pelepasan LDL (Low Density Lippoprotein) oleh karena adanya aktivasi dari Nitric Oxide.

Namun obat ini juga memiliki kelemahan, Efek samping dari penggunaan nebivolol antara lain lemas, sakit kepala, bradikardia, insomnia dan pusing. Penggunaan nebivolol masih kontraindikasi pada pasien dengan syok kardiogenik, severe bradycardia, AV nodal block greater, decompesated heart failure dan severe hepatic disease.

RUJUKAN
1.    Rosei EA, Rizzoni D. Metabolic Profile of Nebivolol, a β-Adrenoceptor Antagonist with Unique Characteristics. Departemen of Medical and Surgical Sciences, Clinica Medica, University of Brescia, Italy. 2007;67(8):1-11
2.    Aram VC. National High Blood Pressure Education Program. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII). U.S. Departement of Health and Human Services; 2003;03:5233
3.    Weiss R. Nebivolol: a novel beta-blocker with nitric oxide-induced vasodilatation. Androscoggin Cardiology Associates. 2006;2(3):303-3
4.    Munzel T, Gori T. The Somewhat-Different β-Adrenergic Receptor Blocker. Journal of the American College of Cardiology. 2009;54(16):1491-1499
5.    Gray CL, Ndefo UA. Nebivolol: A New Antihypertensive Agent. American Journal of Health-System Phramacy. 2008;65(12):1125-1133